Cegah Stunting dengan Konsumsi Protein Hewani


  1. GPPU  
  2. Artikel  
  3. Perunggasan


Jumat,14 Agustus 2020, 22:08 WIB

Indonesia merupakan salah satu negara dengan triple ganda permasalahan gizi. Indonesia adalah negara ke-5 dengan jumlah balita tertinggi mengalami stunting setelah Pakistan, Nigeria, China, dan India. 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.

Status prevalensi gizi balita yang mengalami stunting berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2019 sebanyak 27,67 % atau mengalami penurunan dari 30,8 % 2018. Angka di 2019 ini jauh menurun dibandingkan angka stunting di 2013 sebanyak 37,2 %. 

Banyak faktor yang menyebabkan stunting yang salah satunya adalah kurangnya akses ke makanan bergizi. Ditambah lagi, jika merujuk data Riskesdas menyatakan sebanyak 95,5 % penduduk usia di bawah 5 tahun kurang konsumsi sayur dan buah.

Anak dengan kondisi stunting bisa berdampak terhadap kegagalan pertumbuhan seperti berat lahir yang rendah, kecil, pendek, dan kurus) serta mengalami hambatan perkembangan kognitif dan motorik. Juga gangguan metabolik pada saat dewasa serta risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, stroke, dan penyakit jantung. 

Bahkan Menurut World Bank di 2016, potensi kerugian ekonomi bagi negara setiap tahunnya bisa mencapai 2-3 % dari GDP (Gross Domestic Product). Jika GDP Indonesia Rp 13.000 triliun maka potensi kerugian berkisar Rp 260-390 triliun per tahun. 

Peluang Perunggasan 

Isu stunting ini telah menjadi perhatian serius pemerintah dalam hal ini Presiden dan kementerian terkait. Jargon-jargon 4 sehat 5 sempurna atau 5 sehat dan sempurna dengan gizi seimbang pun perlu disosialisasikan dan dikampanyekan kembali oleh lintas sektoral bersama  stakeholder termasuk melibatkan secara aktif ibu-ibu PKK.

Terkait bidang peternakan, salah satu cara mencegah terjadinya stunting adalah konsumsi makanan bergizi yang bisa didapatkan dari produk protein hewani seperti daging ayam dan telur. Daging ayam dan telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang terjangkau harganya dan mudah diolah menjadi beragam hidangan yang enak untuk disantap keluarga terutama balita dan anak-anak.

Upaya bersama untuk mencegah stunting ini pun menuntut peran para produsen protein hewani dalam hal ini peternak guna menghasilkan produk daging ayam dan telur yang berkualitas serta terjangkau harganya oleh masyarakat. Untuk itu, upaya efisiensi dalam manajemen pemeliharaan ayam harus dilakukan secara berkesinambungan. 

Dengan tercapainya efisiensi, HPP (Harga Pokok Produksi) ditingkat peternak bisa ditekan sehingga harga jual daging ayam dan telur di konsumen pun akan semakin terjangkau. Peternak pun tetap memperoleh keuntungan dan bisnis peternakannya berkelanjutan serta yang terpenting konsumsi masyarakat akan protein hewani semakin meningkat sehingga angka stunting bisa semakin berkurang. 

Agar bisnis perunggasan semakin bergairah dalam meningkatkan konsumsi ptotein hewani di masyarakat tentunya perlu dukungan dari pemerintah melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkannya. Salah satu yang sangat penting bagi peternak atau pelaku usaha perunggasan  misalnya pemerintah memberikan insentif berupa bunga rendah untuk pendirian closed house (kandang tertutup), RPA (Rumah Potong Ayam) dan jaringan rantai dingin (cold chain) untuk kegiatan usaha perunggasan.

Dengan penerapan closed house akan mempercepat realisasi program wilayah bebas penyakit atau kompartementalisasi serta meningkatkan daya saing usaha perunggasan di tanah air. Pasalnya, closed house dapat menghambat keluar/masuk penyakit ke peternakan. Juga bisa mengeliminir penyebaran penyakit zoonosis kepada manusia.

Sebagai gambaran, di Malaysia, peternak yang membuat closed house di hutan sekunder mendapat skim kredit dengan bunga sebesar 3 % bahkan di Thailand bunganya hanya 2 %. Bahkan pemerintahnya membuatkan jalan, jembatan, sumber air, dan listrik sehingga peternak atau pelaku usaha peternakan ayam bisa berinvestasi perkandangan modern.  

Kandang yang dibuat secara modern itu bisa diisi 20 ekor DOC (ayam umur sehari) per m2 dengan berat panen 2,2 kg per ekor atau 44 kg ayam hidup per m2. Sementara di Indonesia perkandangan baru bisa maksimal di angka 14 ekor DOC per m2 dengan berat panen 1,6 kg per ekor atau 22 kg ayam hidup per m2.  

Dengan penggunaan kandang modern, lantai kandang pun bisa sekaligus menjadi timbangan. Bahkan di kandang ada sensor penyakit yang ketika terdeteksi, obat akan bisa digelontorkan lewat air minum yang cukup dikendalikan dari komputer. 

Melalui kandang modern ini biaya manajemen pemeliharaan menjadi rendah dan justru efisiensi yang tinggi bisa tercapai. Tidak heran HPP di Malaysia bisa mencapai sekitar 80 % dari HPP di Indonesia. 

Oleh karena itu, efisiensi di industri perunggasan tanah air menjadi suatu keniscayaan guna meningkatkan daya saing baik secara nasional maupun global. Kalau kita tidak efisien, biaya produksi akan tinggi dan bisa kalah bersaing dengan produk ayam dan telur dari negara lain. Jangan sampai produk negara lain yang lebih murah bisa melenggang masuk ke pasar domestik dan membuat peternak kita menjadi kena imbasnya.

Pemerintah pun sebaiknya tidak usah masuk berbisnis di industri perunggasan ini. Pemerintah cukup membuat regulasi dan memfasilitasi semua stakeholder di industri ini. Kalau para peternak dan pelaku usaha industri perunggasan ini mendapatkan profit, maka pemerintah akan mendapatkan benefit.


Artikel Lain

Mencintai Profesi Sepenuh Hati

Minggu,16 Agustus 2020

Bekerja dengan cinta agar semua terasa ringan dan menyenangkan menuntun kiprahnya selama 40 tahun di…


Supply Chain Industri Ayam Dan Telur

Sabtu,15 Agustus 2020

Infografis tentang Supply Chain Industri Ayam Dan Telur di Indonesia


SEKAPUR SIRIH

Jumat,14 Agustus 2020

SEKAPUR SIRIH ....Tiada terasa tahun ini GPPU beranjak ke usia yang ke 50. Usia 50 menandakan kedewasaan…


Menjaga Ketahanan Pangan Sektor Perunggasan

Jumat,23 Agustus 2019

Kekalahan Indonesia atas gugatan Brasil di sidang WTO membuat dinamika perunggasan nasional cukup menarik…



Keep in touch with us


Jl. Gn. Sahari No.11, RT.11/RW.6, Kota Tua, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14430

info@gppu-id.org

(021) 62317902

Your message has been sent. Thank you!
 

© 2019 GPPU. All Rights Reserved