Achmad Dawami Pimpin GPPU


  1. GPPU  
  2. News  
  3. Berita GPPU


Jumat,14 Agustus 2020, 14:43 WIB

Tangerang Selatan (GPPU). Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita mengukuhkan Achmad Dawami sebagai Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) periode tahun 2018 – 2022, pada Kongres ke-12 GPPU yang berlangsung di Tangerang Selatan pada Jumat 27 Juli 2018. Dawami menggantikan Krissantono yang telah berakhir masa jabatannya. 

 

Menurut Ketut, terjadi perubahan yang cukup drastis pada industri perunggasan tanah air. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1970 sebesar 115 juta orang. Sekarang di 2018, jumlah penduduk Indonesia naik sebesar 120 % dari 1970. Dampaknya, terjadi kenaikan konsumsi daging ayam ataupun telur sebesar ribuan persen. “Ini artinya, perekonomian Indonesia membaik, kesadaran akan pentingnya protein hewani juga membaik, konsumsi daging ayam dan telur pun membaik,” katanya.

Konsumsi daging di Indonesia sekitar 1,2 kg per kapita per tahun. Lembaga lain seperti BPS (Badan Pusat Statistik) mengatakan 12,1 kg per kapita per tahun, sedangkan pelaku perunggasan menyatakan 14 kg per kapita per tahun. Perbedaan data tersebut menjadi permasalahan. “Data itu tidak lepas dari kesepakatan bersama. Kita tentukan kriteria untuk mencari data yang valid. Sebagai contoh, anggap saja konsumsi daging 12,1 kg per kapita per tahun. Tetapi sebetulnya itu konsumsi karkas bukanlah daging ayam,” terang Dawami.


Ia menyampaikan, hal yang perlu dilakukan adalah mencanangkan target konsumsi oleh pemerintah. Hal itu akan diikuti dengan berkembangnya jumlah peternak ayam maupun breeding farm. “Perihal gejolak harga, yang senantiasa naik turun, alasannya faktor produksi, hari besar dan lain sebagainya. Kami hanya minta satu hal pada pemerintah selaku lokomotif perunggasan, supaya mengatur keseimbangan supply dan demand melalui impor GPS,” harap Dawami.


Dawami mengungkapkan bahwa para anggota GPPU merupakan orang-orang yang sudah ahli di bidang perunggasan. Ia pun menghimbau agar selalu kompak. “Dengan kondisi seperti ini, marilah kita tumbuh bersama-sama. Kita masih memiliki tugas yang luar biasa, yaitu memperbaiki supply dan demand,” ajaknya. 


Pada Kongres ke-12 yang berlangsung pada 25-27 Juli 2018 dengan tema “GPPU Menghadapi Tantangan Nasional, Regional dan Global. Siapkah?” digelar pula Focus Group Discussion (FGD) yang merupakan rangkaian acara. Dalam FGD mengemuka bahwa terkait dengan fenomena gejolak harga, Indonesia juga dihadapkan oleh tantangan mulai dari lingkup regional, nasional dan global. Sekretaris Jenderal GPPU periode tahun 2012 – 2018 Chandra Gunawan berpendapat, bahwa tantangan perunggasan terbagi menjadi tiga sesuai dengan tema kongres ke-12 ini. “Tantangan nasional saat ini adalah tingginya HPP (Harga Pokok Produksi) pada produk kita, mulai dari harga PS (Parent Stock), FS (Final Stock), live bird (ayam hidup) dan telur,” ujarnya.


Fluktuasi harga jual di farm gate (harga acuan) mayoritas pada broiler (ayam pedaging) sebab di Indonesia masih menggunakan sistem wet market (pasar becek). Kemudian rantai pasar yang panjang, program pasca panen yang kurang tertata serta penyakit menjadi tantangan nasional negara Indonesia.


“Di sisi lain, tantangan regional yang sedang dihadapi adalah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), yang sejak tahun 2015 bea masuk produk adalah 0 %. Ini menjadi tantangan, sebab negara-negara tetangga pasti akan berlomba untuk mengekspor produknya ke Indonesia,” papar Chandra.


Tantangan lain yaitu secara global, Indonesia telah kalah di WTO (World Trade Organization). Hal tersebut tentunya perlu dipikirkan bersama terkait cost (biaya) di dalam negeri yang masih tinggi, agar produk dari Brazil tidak masuk ke pasar Indonesia.


Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo menyampaikan, tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya milik GPPU, tetapi seluruh pelaku perunggasan di Indonesia. Hal tersebut guna untuk mewujudkan kebutuhan gizi pangan asal hewan, yaitu daging ayam dan telur.


“Sekarang kita punya tantangan regional, nasional dan global. Ini merupakan kenyataan yang harus siap kita hadapi. Kalau tadinya masih entah di depan mana, sekarang sudah ada di depan hidung kita,” ungkap Don.


Menciptakan produk dengan kualitas yang baik dan mampu bersaing adalah peluang untuk Indonesia dapat melakukan ekspor. Sebelum ada masalah AI (Avian InfluenzaI), Indonesia pernah ekspor DOC (ayam umur sehari). Namun setelah AI menyerang, tidak lagi dilakukan ekspor.


Hal ini menjadi tantangan GPPU dan Don menghimbau untuk secara bersama-sama membantu memenuhi kebutuhan daging ayam dan telur. “Ini adalah tantangan untuk kita semua, GPPU telah bekerja keras dan pelaku perunggasan telah melakukan kerjanya dengan baik,” tandasnya.


Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, menyatakan, di dalam suatu usaha tidak melulu perusahaan besar yang dapat survive (bertahan). “Di dalam usaha kita melihat begitu banyak perusahaan serta industri besar yang bangkrut dan tidak bisa bertahan, hanya karena mereka tidak mampu mengantisipasi sebuah perubahan,” ungkapnya.


Oleh karenanya, Eko menghimbau agar seluruh pelaku perunggasan dan stakeholder terkait untuk memperbaiki internal organisasi terlebih dahulu. Seperti halnya yang sudah ia lakukan dalam membantu desa tertinggal. 


 “Tantangan juga banyak yang kami hadapi, tetapi kami terus berkomitmen. Sebab desa tidak akan pernah siap kalau kami tidak mulai memberikan dana desa. Kalau desa tidak siap, desa tidak akan pernah mencoba untuk memulai pembangunan. Kami tidak pernah mundur dan terus mendampingi dan memperketat pengawasan,” jelas Eko yang pernah menjabat Ketua Umum GPPU ini. 


Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Sugiono dalam sambutannya memaparkan hasil audit yang dilakukan untuk GPS (Grand Parent Stock). Saat ini pemerintah telah memiliki tim untuk menentukan kuota GPS (Grand Parent Stock) yang ada di Indonesia. Ia dan timnya telah menghitung dan diperoleh hasilnya 799 ribu ekor.


Dari audit yang dilakukan, ia menjadi tahu bagaimana ‘dapur’ perusahaan-perusahaan besar yang ia kunjungi. “Isu yang berkembang bervariasi, mulai dari penyakit dan segala macamnya. Hasil audit membuktikan 799 ribu ekor, artinya kita surplus. Hal ini membuktikan bahwa kita cukup, berkat kerja keras Bapak dan Ibu sekalian,” tandas Sugiono.

 

Badan Pengurus Pusat GPPU
Ketua Umum    : Achmad Dawami
Ketua 1            : Krissantono
Ketua 2            : Eko Parwanto
Sekretaris Jenderal : Chandra Gunawan
Sekretaris 1      : Wahyu Nugroho
Sekretaris 2      : Erwan Julianto
Bendahara        : Theresia Yeni


Berita Lain

Indonesia Ekspor 58.000 Butir Telur Tetas ke Myanmar

Senin,09 November 2020

Indonesia Ekspor 58.000 Butir Telur Tetas ke MyanmarIndonesia berhasil melakukan ekspor hatching egg,…


Sambutan Peluncuran Website GPPU

Senin,17 Agustus 2020

Assalamu’alaikum Wr. Wb.Salam kasih untuk kita semua.Teriring doa untuk rekan-rekan dan keluarga besar…


Nasrullah Dilantik Menjadi Dirjen PKH

Minggu,16 Agustus 2020

Jakarta (GPPU). Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melantik Nasrullah sebagai Direktur Jenderal…


Peluang Di Bidang Perunggasan

Sabtu,15 Agustus 2020

Isu stunting ini telah menjadi perhatian serius pemerintah dalam hal ini Presiden dan kementerian terkait.…



Keep in touch with us


Jl. Gn. Sahari No.11, RT.11/RW.6, Kota Tua, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14430

info@gppu-id.org

(021) 62317902

Your message has been sent. Thank you!
 

© 2019 GPPU. All Rights Reserved